PROFIL PENYIMPANAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUD ANDI DJEMMA MASAMBA, KABUPATEN LUWU UTARA
Abstrak
Pelayanan kefarmasian termasuk manajemen pengelolaan yang meliputi penyimpanan obat harus diperhatikan karena untuk perlakuan berbagai macam jenis obat atau sediaan tidaklah sama. Penyimpanan obat merupakan tahap yang sangat penting untuk menjaga mutu dari obat-obatan, penyimpanan obat harus menjamin kualitas dan keamanan dari obat sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penyimpanan obat di Instalasi Farmasi RSUD Andi Djemma Masamba, Kabupaten Luwu Utara dan kesesuainnya terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Informan dalam penelitian ini terdiri dari Kepala Instalasi Farmasi, Apoteker Pendamping, dan Kepala Gudang Instalasi Farmasi RSUD Andi Djemma Masamba Kabupaten Luwu Utara. Pengumpulan data pada penelitian dengan cara observasi, wawancara mendalam dan analisis data. Presentasi kesesuaian mengenai sarana dan prasarana yaitu 100%. Presentasi tempat penyimpanan narkotika, psikotropika dan prekursor yaitu 100%. Presentasi metode penyimpanan obat yaitu 88,8% ditemukan obat tidak disusun berdasarkan kelas terapi. Prensentasi metode penyimpanan obat high alert 80% ditemukan tidak menggunakan metode tall man lettering. Presentasi pencatatan kartu stok 100% pencatatan akrtu stok sudah dilakukan setiap proses mutase obat.
Referensi
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
[3] Rusly. (2016). Farmasi Rumah Sakit Dan Klinik.
[4] Lilik Nurhayati. (2021). Menerapkan Manajemen dan Administrasi di Bidang Farmasi (Dewi Noviyanti Sari (ed.)). Multi Kreasi Satudelapan.
[5] Permenkes RI. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
[6] Qiyaam, N., Furqoni, N., & Hariati. (2016). Evaluasi Manajemen Penyimpanan Obat di Gudang Obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Soedjono Selong Lombok Timur. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(1), 61–70.
[7] Monibala, T., Citraningtyas, G., & Yamlean, P. V. Y. (2019). Evaluasi Penyimpanan Dan Pendistribusian Obat Di Instalasi Farmasi Rsud Noongan, Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Pharmacon, 8(1), 79. https://doi.org/10.35799/pha.8.2019.29240.
[8] BPOM RI. (2018). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Pengawasan Pengelolaan Obat, Bahan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 1–50.
[9] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Profil 2011. Https://Medium.Com/. https://medium.com/@arifwicaksanaa/pengertian-use-case-a7e576e1b6bf.
[10] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia (5Th Ed). In Jakarta.
[11] Zaini, alifa nur, & Gozali, D. (2020). Pengaruh Suhu Terhadap Stabilitas Obat Sediaan Suspensi. Farmaka, 14(2), 1–15.
[12] Utomo, S. (2012). Bahan Berbahaya Dan Beracun (B-3) Dan Keberadaannya Di Dalam Limbah. Konversi, 1(1), 37–46.
[13] Sumiarsa, D., Maharani, R., & Zainuddin, A. (2019). Sosialisasi bahan berbahaya dan beracun (B3) di Desa Cileles, Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN 1410-5675 ;, 4(6), 145–146.
[14] Pakaya, A., Abdulkadir, W., & Tuloli, T. S. (2021). Gambaran Pengelolaan Emergency Kit (Trolley) Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hasri Ainun Habibie Kabupaten Gorontalo. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 1(1), 47–56. https://doi.org/10.37311/ijpe.v1i1.10122.
[15] Satibi. (2014). Manajemen Obat di Rumah Sakit. Manejemen Adminsitrasi Rumah Sakit, 8(5), h: 6-7, 9-10.
[16] Permenkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
[17] Andriansyah, F. (2018). Redesain Tata Letak Gudang Untuk Meminimalkan Ongkos Material Handling Pata Pt.Securico', Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Available at: http;repository.untag-sby.ac.id/1776/3/BAB 2.pdf.
[18] BPOM. (2018). Laporan Tahunan Balai Besar POM Kota Makassar. 021(133), 1–233.
[19] Siyamto, Y. (2022). Pengggunaan Metode FIFO Dan FEFO Dalam Mengukur Efisisensi Dan Efektifitas Persediaan Obat Paten 2020-2021. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 8(2), 2221. https://doi.org/10.29040/jiei.v8i2.6041.
[20] Saputera, M. M. A., Rini, P. P., & Soraya, A. (2019). Kesesuaian Penyimpanan Obat High Alert Di Instalasi Farmasi Rsd Idaman Banjarbaru. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 2(2), 205–211. https://doi.org/10.36387/jifi.v2i2.416.
[21] Muhlis, M., Andyani, R., Wulandari, T., & Sahir, A. A. (2019). Pengetahuan Apoteker tentang Obat-Obat Look-alike Sound-alike dan Pengelolaannya di Apotek Kota Yogyakarta. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 8(2), 107. https://doi.org/10.15416/ijcp.2019.8.2.107.
[22] Husnawati, H., Aryani, F., & Juniati, A. (2016). Sistem Penelolaan Obat di Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu-Riau. PHARMACY; Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), 2016, 13.1:71-83